Kamis, 14 April 2016

Anatomy Class


ANATOMY CLASS
oleh Andika Hilman
(berdasarkan mitos-mitos di fakultas kedokteran Unair)

Pak Hardi mengusap keringatnya. Ia melihat langit gelap melalui jendela kelas yang masih terbuka sembari merapikan bangku-bangku bekas kuliah malam beberapa saat yang lalu. Belum lama ia bekerja menjadi penjaga di kampus kedokteran ini, tetapi sudah banyak cerita horror yang ia dengar. Ia hanya bisa berdoa supaya semua itu cuma ‘cerita’ belaka.

Seorang wanita masuk ke dalam kelas tersebut. Pakaiannya serba putih dilengkapi tas yang juga putih. Tubuhnya tinggi semampai dan dari wajahnya tampaknya ia berketurunan Eropa. Tanpa berbicara apapun ia duduk di salah satu kursi yang belum dilipat oleh Pak Hardi. “Krieet!” suara kursi bergeser mengangetkan pria yang sudah berusia kepala empat tersebut. Ia sontak menoleh ke arah sumber suaranya.
Ia tidak melihat apa-apa……

Seang Pak Hardi melipat-lipat bangku kuliah dan menaruhnya di pojok kelas, sang wanita asik membaca sebuah buku kecil. Suatu saat ia mengambil kotak makanan dari dalam tasnya. Ia pun melahap Stamppot, mashed potato dengan campuran sayur dan wortel. “Bau apa ini?”batin Pak Hardi. Ia lalu ingat salah satu kisah temannya mengenai kejanggalan di fakultas kedokteran, yaitu bau kentang yang hanya tercium pada malam hari. Pak Hardi melirik jam yang menunjukkan pukul 11 kurang sekian. Ia pun mulai merinding.

Jumlah siswa kedokteran yang banyak membuat Pak Hardi harus merapikan banyak bangku juga. Dengan kewaspadaan tinggi ia melanjutkan tugasnya. Sesekali ia melirik ke ruangan untuk memastikan bahwa tidak ada hal aneh di dekatnya. Tiba-tiba ia mendengar suara tawa seorang perempuan. Ia kaget setengah mati. “SIAPA ITU?!”teriaknya. Sang wanita sontak menutup mulutnya. Ia malu tanpa sengaja tertawa karena hal lucu pada buku yang dibacanya.
Tanpa sepengetahuan wanita tersebut, Pak Hardi mulai melafalkan segala doa yang ia tahu. Sang wanita merasa gerah dan kepanasan. Ia pun membereskan barang-barangnya, lalu pindah ke tempat lain. Pak Hardi pun tidak lagi merasakan hal yang aneh. Suasana tenang kembali.

Kini semua bangku sudah dirapikan. Pak Hardi sedang menyapu kelas yang sebentar lagi hampir selesai. “Krieeet!” Tiba-tiba terdengar suara meja bergeser sangat keras. Pak Hardi sontak melemparkan sapunya ke lantai. Matanya terbelalak dan mulutnya sedikit terbuka. Ia merasa baru saja melihat suatu penampakan. Untuk memastikan bahwa itu bukan maling atau mahasisa yang nakal, ia menghampiri meja yang bergeser tadi. Sambil mengendap-endap perlahan ia berjalan menuju meja kayu yang terletak di depan kelas. Ia menyipitkan matanya untuk melihat apa yang di sana. Pak Hardi berjalan semakin dekat, semakin dekat, dan tiba-tiba……

“AAAAAAAAAAAAAAAARGH!!!”




















Di ruang kuliah anatomi yang sama pada malam yang berbeda, Pak Hardi berdiri di depan pintu sambil membawa sapu. Kini ia tidak sendiri, melainkan ditemani salah seorang pria berseragam dengan logo TV di lengannya. Kru TV tersebut menyerahkan sebuah amplop dan mengucapkan terima kasih kepadanya. Pak Hardi menerimanya dengan wajah tanpa ekspresi. Di sampingnya ramai kamera yang sedang merekam seorang dukun mengusir arwah dalam kelas tersebut. Dari luar kelas Pak Hardi mendegar suara tangisan dan jeritan keras seorang wanita. Suara yang ia kenal.....

Sambil memegang erat uang di tangannya, Pak Hardi pun pergi dengan perasaan bersalah.









Tidak ada komentar:

Posting Komentar