Rabu, 23 November 2016

MAIN SUSU??? (Censored Version)

MAIN SUSU [Cerpen]
oleh Andika Hilman

Aku sedang bermain susu.

Putingnya kecil. Indah. Aku senang. Dia juga cantik sekali saat sedang tertidur. Ia memang biasa membiarkanku bermain saat tidur seperti ini. Lucunya dia masih bisa tertidur sangat pulas. Justru katanya menyenangkan ketika bangun ia melihatku masih bermain dengan susunya. Nikmat. Bukan dengan arogansi, bukan dengan mata yang terbuta. Mungkin inilah yang dinamakan cinta.

Kami tidur hanya ditutupi oleh sebuah selimut putih tebal. Kulihat seragam sekolahnya dibiarkan berserakan di samping tempat tidur, tepat di atas seragamku. Bagi kami warna putih abu-abu hanyalah simbol sebuah penjara. Karenanya kami direndahkan oleh orang dewasa yang merasa lebih dewasa. Karenanya pula orang tua kami takut akan cinta. Bodoh banget! Setiap kita membahas hal ini dia selalu mengakhiri kalimat dengan,”This is suck!”

Sistem percintaan di Indonesia memang aneh. Aku berani berkata bahwa aku siap menikahinya sekarang. Aku siap mencinta dan berkomitmen. Aku siap merawatnya sampai akhir hayat dan aku serius dengan hubungan ini. Dia pun begitu. Namun semua itu tidak mungkin hanya karena statusku masih siswa SMA. Yah aku sadar setiap orang tua ingin anaknya mendapatkan yang terbaik, tetapi bukan berarti mereka harus terpaku dengan aku harus punya pekerjaan tetap dululah, ras harus samalah, sesuku, seagama, sebahasa, kedua pihak keluarga harus sama-sama cocok dan segala tai-tai busuk lainnya. Belum lagi menikah harus pake resepsi, harus pake acara besar-besaran, mengundang sebanyak-banyaknya orang, diadakan di gedung besar dan segala macamnya. Bagiku cinta ya berarti aku cinta sama dia. Sudah!

Bahkan Islam pun setuju karena setahuku pada Rasulullah pernah bersabda,"Biasanya, seorang wanita itu dinikahi karena empat alasan: karena harta kekayaannya, kedudukannya, kecantikannya dan karena agamanya. Hendaknya engkau menikahi wanita yang taat beragama, niscaya engkau akan bahagia dan beruntung.” Nah, berarti tetek bengek kusebutkan di atas itu nomor sekian. Hal yang terpenting adalah kualitas diri. Bahkan pada hadist lain Muhammad SAW mengatakan,"Bila ada seorang yang agama dan akhlaqnya telah engkau sukai, datang kepadamu melamar, maka terimalah lamarannya. Bila tidak, niscaya akan terjadi kekacauan dan kerusakan besar di muka bumi.” Bener kan? Islam aja sepakat lho kalau pernikahan itu nggak butuh hal yang aneh-aneh. Para orang "dewasa" memang sucks!!!

Aku pribadi pernah membaca kisah-kisah pasangan muslim yang menikah muda. Mereka semua bilang bahwa pernikahan itu tidak menunggu. Pernikahan itu ibadah! Justru dengan pernikahan rejeki bertambah, pekerjaan mudah datang, serta studi pun dilancarkan. Sampai hari ini aku heran kenapa manusia melabeli dirinya ‘orang dewasa’ ketika mereka tidak benar-benar dewasa. Yang lucu justru orang dewasalah orang yang berhenti belajar dan instropeksi diri. Itukah dewasa?

Gara-gara ketidakdewasaan merekalah aku tepaksa bermain susu sebelum waktu melegalkannya......

Ngomong-ngomogn ia sudah bangun dari tadi. Setelah memberiku morning kiss ia lalu beranjak menuju kamar mandi. Hari ini Sabtu jadi kami tidak terburu-buru untuk melakukan apapun. Namun aku tahu dia memang sangat menikmati mandi, terutama dengan air hangat. Biasanya 1 jam lagi baru kita bisa melihatnya keluar dari kamar mandi.

Sering terbersit pikiranku untuk meninggalkannya. Sejujurnya aku sadar hubungan ini tidak sehat. Tidak akan berhasil. Setidaknya tidak akan berhasil di dunia yang serba tidak sempurna ini. Mungkin seharusnya semua ini tak pernah terjadi. Mungkin seharusnya aku tak pernah menyentuh hatinya. Seharusnya aku tidak menyentuh tubuhnya. Atau bahkan tidak mengenalnya. Tidak bercakap dengannya. Tidak bertukar emosi. Tidak saling memahami nafas masing-masing. Berhenti mencinta. Berhenti menghidupi satu sama lain.

Mungkin seharusnya dia duduk saja di kelas setiap pagi sebagai kutu buku. Ranking 1 di kelas. Juara lomba pidato. Mewakili sekolah mengikuti olimpiade IPA. Diterima di kampus idaman. Lulus cum laude. Bertemu dengan pria dengan pekerjaan tetap. Menikah. Punya anak. Mati. Masuk surga. Tamat. Tidak seharusnya dia mengenal cinta dariku. Aku sebenarnya percaya banget sama konsep jodoh dan aku tahu bahwa dia jodohku. Namun mungkin Tuhan menciptakan jodoh kita lebih dari satu. Mungkin dalam semestanya aku adalah jodoh yang tidak seharusnya ia pilih. Bukan karena aku buruk, bukan karena tidak ada cinta, tetapi aku sekedar pilihan hidup yang salah dalam suratan takdirnya. Sesederhana itu.

Namun aku tak sanggup kehilangannya.
Aku tidak akan sanggup melihatnya dimiliki pria lain.....

Dia keluar dari kamar mandi dengan sehelai handuk pink menutupi separuh badannya. Aku berdiri. Kuberjalan mendekatinya tanpa berkata-kata sampai ia bisa merasakan nafasku di hidungnya. Kurasakan setiap sensasi yang selalu datang ketika aku berdekatan dengannya. Dia kebingungan, mungkin berekspektasi tanpa tahu apa yang perlu diekspektasi, tetapi aku hanya diam tanpa melakukan apa-apa. Sesaat kemudian aku berkata,”Aku mandi dulu ya.”

“Iya...” jawabnya lirih, tetapi tepat sebelum aku menutup pintu dia menarikku dan menciumku. Ciuman yang intense hasil dari rindu yang dalam sekali.

Mana tega aku meninggalkannya jika aku tahu rasa sedihnya akan sehebat ciuman ini? Aku tidak akan tega membiarkannya menangis demi meninggalkan rasa yang sudah kita jalani bersama! Aku bingung. Tanpa alasan aku mendorongnya dan meninggalkanna masuk ke dalam kamar mandi. Kukunci pintu dari dalam. Mungkinkah seharusnya begini?

Bagaimanapun patah hati memang seperti kamar mandi ini: hening. Kosong. Mungkin perih, tetapi ya begitulah rasanya patah hati. Aku harap perasaan di hatinya bisa reda setelah 10 siang dan 10 malam. 10 acara TV. 10 drama Korea. 10 kotak tisu. 10 teman yang bisa dicurhati. 10 gelengan putus asa. 10 amarah. 10 usaha untuk kembali. Sampai 10 kecemasan sebelum akhirnya dia menerima kenyataan bahwa kisah kita tidak sempurna. Bahwa kisah cintanya mungkin harus melewati malam-malam yang kosong dan sendirian setelah ini. Perasaan yang naik-turun. Memori yang akan terus memaksa untuk diingat. Mungkin memang seharusnya dia mulai membenciku, meski dengan tangisan. Ini semua karena.....

Kubuka pintu dan kulihat matanya berkaca-kaca. Ia duduk di pinggiran tempat tidur. Syok. “Maaf,” kataku sebelum memeluknya. “Aku cuma lelah,” bohongku. Yang ia tidak tahu aku sudah bertekad untuk meninggalkannya setelah ini. Selamanya. Untuk kebaikannya.

Handuknya jatuh. Kulihat susunya yang tadi pagi kumainkan. Putingnya masih kecil. Masih indah. Ah, aku tidak boleh begini. Stop sucking! Mulai detik ini aku akan lebih “dewasa”.

......Karena kali ini aku akan lebih menghargai susu.











*Catatan: Terima kasih Gary dengan lagu 'Get Some Air', Upi dengan film 'Radit Jani' dan Djenar Maesa Ayu dengan buku '1 Perempuan 14 Laki-Laki' yang telah menginspirasiku bikin cerita pendek setidak-"dewasa" ini. You guys are awesome! Walaupun kalian nggak baca ini, kuharap rasa syukur ini sampai pada kalian.....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar